rianarei.com

Dulu waktu blm nikah, rasanya semua hal ingin kita raih dengan tangan sendiri. Ingin jadi ini dan itu. tapi setelah jadi ibu rumah tangga rasa2nya kita lupa sama cita2 kita dulu. Semua berubah sejak menyandang status Ibu dan rasanya seperti kita terjebak pd label kondisi tanpa bisa mengembangkan diri lebih jauh.

Apa iya?


Semenjak menjadi ibu akupun merasa seperti kehilangan jati diri. Aku yg dulu sangat mandiri, banyak berkegiatan dan menghasilkan uang, kini menjadi stuck dirumah dan hanya mengandalkan suami. Saat itu aku masih denial akan statusku, blm bisa menerima perubahan itu. Maka setelah melahirkan akupun kembali bekerja dengan harapan aku bs seperti dulu.

Tapi, kondisi fisik tidak mendukungku. Kecapean, stress dan kepanikan mulai menyerangku. Aku sakit-sakitan, pernah di opname, pernah juga sepulang kerja langsung ke IGD, dan bahkan mengalami gangguan kepanikan. Hal itu semua dipicu karena fisik yang lelah dan fikiran yang stress. Akhirnya aku menyerah setelah setahun bekerja. Dan aku kembali menjadi ibu rumah tangga.

Selepas resign, Ini tidak berhenti begitu saja, kondisi fisik yg lemah dan serangan panik tetap menghantuiku, hingga aku merasa tidak punya semangat untuk hidup. Setiap hari aku merasa akan mati dan ini semua udah mengganggu kehidupanku. Keadaan ku tidak lebih baik dibanding sebelum bekerja dulu, dan aku ingin sembuh. Problematika didalam diri semakin bertambah, dari yang awalnya aku denial menjadi Ibu, kini malah aku mengacaukan fisik dan fikiranku.

Dari sini aku belajar, bahwa keegoanku akan menghancurkan diriku dan aku ingin sembuh. Aku belajar dan sadar, bahwa aku belum sepenuhnya mengerti hakikat pernikahan dan how to be a mom? Aku tidak menyesali keputusanku untuk bekerja kembali, aku hanya bodoh. Aku bersyukur bahwa anakku tumbuh dengan baik dan sehat meski banyak sekali kesalahan yang aku buat kepadanya.

Perlahan tapi berproses, aku ingin kembali mengenali diri sendiri dan menerima diriku sebagai Ibu. Iya, Ibu. Sebuah status tanpa pangkat namun tanggung jawab nya luar biasa. Aku kembali menata hidupku dan memilih menjadi Ibu untuk Aliandra (juga adik2nya insyaaAllah kalo dikasih kepercayaan lagi). Disamping aku menyembuhkan diriku sendiri. InsyaaAllah aku akan cerita bagaimana aku berproses menyembuhkan diri sendiri dari gangguan psikologis. Sungguh, ini semua hal yang baru dalam hidupku. Memang, menikah adalah menempuh hidup baru. Aku baru mengerti itu.

Mengenali diri sendiri


Masih dalam tahap belajar mengenali diri sendiri, akupun ingin mengenali impianku. Kamu tau, punya impian itu hak setiap orang tinggal gimana caranya kita mau mewujudkannya. Bila ibu bekerja punya impian menjadi Full Time Mom, maka Full time mom pun punya impiannya. Apa itu impiannya? Semua tergantung masing-masing Ibu. Begitu juga aku, aku juga ingin punya impian.

Didalam pencarian mimpi, aku hanya bisa belajar, ikhtiar, dan berdoa kepada Allah. “Aku ingin punya impian, ya Allah. Aku ingin… setidaknya Engkau gunakan aku agar aku bisa bermanfaat untuk orang lain”. Gimanapun caranya, yang penting halal. Maka, ikhtiar aku kerjakan. Dikala aku sedang santai main HP (ini aja yang aku lakuin dirumah, hee), aku berpikir untuk mulai mencoba membuka diri ke berbagai tempat. Aku mulai memperluas pembelajaranku dengan ikut komunitas, kuis hunter, giveaway hunter, dll.. hingga akhirnya alhamdulillah aku dipercaya untuk mempromosikan produk dari brand.
Semua aku lakukan dengan berproses dan melatih diri, agar aku tetap punya kesibukan dan melupakan fikiran2 aneh yang muncul di otakku yang memicu terjadinya serangan panik.

Impian yang sederhana


Dari tahapanku berproses hingga saat ini, perlahan2 impian baruku itu muncul bagai cahaya dilorong gelap. Cahaya yang memberikan semangat baru dalam hidupku yang baru ini. Aku baru memahami, Disaat kita punya impian yang lebih jauh lagi dari pada hanya sekedar untuk diri sendiri, mempunyai impian agar bermanfaat untuk orang lain / orang banyak jauh lebih damai. Tapi tentu saja hal tersebut butuh belajar, belajar dan belajar untuk memahami dan mencari jalan dengan cara kita sendiri dalam hal menebarkan manfaat. Tanpa ego, tanpa riya’, dan tanpa tatapan sinis atau prasangka dr orang lain.

Titik awalku dalam berproses menjalani mimpiku yang baru ini, dimulai sejak awal 2020 sebelum pandemi merebak di Indonesia. InsyaaAllah aku akan menuliskannya satu persatu prosesku menjalani impian. Iya. Menjalani impian, bukan mencapai impian. Apa beda? Jelas beda. Menjalani impian adalah ketika kita ingin menjadikan cita2 kita itu sebagai bagian dlm hidup. Bukan hanya sekedar mencapainya. Karena kalo mencapai, menurutku kita akan berada pada titik bosan dan ingin mencapai hal lain lagi. Dan.. Salah satu prosesku menjalani impian adalah ketika aku bisa memberangkatkan seseorang untuk pergi berumrah.